66 HARI
Oleh :Tri
Rahayu Nur Rohmah
Gedung
kesenian sudah ramai sejak dari pagi.Kursi-kursi, bunga-bunga, spanduk, dan
peralatan lainnya juga sudah tertata beberapa hari yang lalu.Cahaya lampu
menyilaukan mata berbaris mengikuti ruang luas,megah memang tampak dari dalam
sini.”Deg deg deg”, jantungnya berdetak
begitu kencang,ia duduk dibarisan tengah bersama teman-teman sekelasnya. Kali
ini terlihat lebih menawan memakai jas hitam berdasi merah dengan garis-garis
putih,”Waduh seperti pejabat mau rapat saja.”Celetuk pria muda yang duduk
dibelakang,tak ada kegaduhan seperti di kelas maklum semua tamu undangan dan
orang-orang penting di sekolah duduk di barisan depan dengan kursi sofa dan
meja.Setelah orang-orang itu duduk di kursi yang telah tertata,acara pun
dimulai,namun suasana begitu tenang. Semua hadirin memperhatikan pembawa acara
yang berdiri di atas panggung.
”Baik,sekarang tibalah saat yang kita
tunggu-tunggu,pasti semua yang hadir disini penasarankan ?”tanya si pembawa
acara,orang-orang yang datang melihat satu sama lain,menanti seseorang yang
begitu luar biasa hingga ia jadi siswa terbaik,”langsung saja kita sambutperaih
peringkat satu siswa terbaik SMK Airlangga...”.
”Iqbal,Iqbal,Iqbal.....”belum
selesai pembawa acara berbicara sebagian besar murid yang menghadiri acara bersorak
dengan penuh semangat dan optimis Iqbal pasti yang akan menyandang predikat
itu,karena cuma dia yang layak dan pantas menerimanya.Sementara itu Iqbal hanya
bisa menundukkan kepalanya dan tersenyum dibalik tangannya yang menutupi
sebagian wajahnya karena tersipu malu.
”Beri
tepuk tangan kepada saudaraIqbal Aji Nugraha.....,” seru pembawa acara.
Semua
orang bertepuk tangan menyambut dirinya dengan riang, ia pun berdiri
mempersiapkan dirinya di depan kursi yang Ia tempati. Berbagai pasang mata
melihatnya dengan bangga.
“Iqbal...bangun
sudah pagi !”Ibunya berusaha membangunkan Iqbal dari tidurnya,ibu menarik-narik
tangannya,memang tak begitu keras dan kuat mungkin karena usianya yang sudah
hampir setengah abad.
”Ah
Ibu,Iqbal belum maju ke depan sudah dibangunkan”
“Loh
ke depan ? ke depan mana ?”
”Iya
ke depan !,Iqbalkan dapat predikat siswa terbaik di perpisahan sekolah...”
”Hem,
kamu sih bangun kesiangan sudah jam berapa ini ?, ini sudah jam setengah enam,pakai
acara mimpi segala...sudah,sholat dulu sana !,nanti terlambat lho”
“Iya
bu” jawab Iqbal dengan suara yang tidak begitu jelas,seraya beranjak dari tikar
alas tidurnya.
Tangan
kanan Iqbal mencoba meraih kacamata yang diletakkannya di atas meja belajar. Meski
pandangan mata yang tak begitu jelas untuk melihat,Iqbal sudah tidak kesulitan
lagi menemukan kacamatanya,ia tentu sudah hafal dimana ia menaruhnya.Penyakit
miopy yang diderita Iqbal sejak masih kecil memaksanya untuk memakai kacamata
berlensa minus dan tentu sekarang sudah menjadi sahabat sejatinya sejak dua
tahun yang lalu.Mungkin ketika masih SMP ia hanya memakai kacamata saat merasa
tidak bisa lagi melihat dari kejauhan, tapi tentu seiring waktu keadaan akan
terus berubah.
Hari
masih pagi Iqbal begitu bersemangat untuk sekolah,meski bangun kesiangan,dia
tak pernah merasa kerepotan.Semua yang harus dibawa ke sekolah sudah Dia
siapkan sejak kemarin malam.Mungkin hanya membutuhkan waktu tiga puluh sampai
empat puluh lima menit baginya untuk mandi dan mempersiapkan peralatan ke
sekolah.Di kamarnya yang sederhana,Iqbal mempersiapkan semuanya. Memang agak
berantakan. Bajunya berserakan , ada yang tergantung di lemari, di meja bahkan
ada yang di lantai,kertas-kertas hanya dibiarkan di atas meja belajar,bahkan
kabel-kabel kecil pun berada di sudut ruangannya. Hemm,masih untung pasar tidak
berpindah ke dalam kamarnya yang tak terlalu luas itu.
“Pagi
pria tampan...!”,bayangan dirinya di kaca lemari berbicara kepadanya.Pagi ini
dia memulai dengan sesuatu yang membuatnya tertawa sendiri. Ya ! menghibur diri
sendiri itu penting.
Iqbal
pun keluar dari kamar dan menyalakan motor yang terparkir di ruang tamu,sembari
menunggu mesin motornya memanas,lalu pergi ke dapur duduk di sebuah kursi kayu dan
menyantap beberapa sendok nasi yang sudah siap di piring sejak tadi. Memang
hambar, tapi baginya itu sudah cukup. Tidak berani Iqbal menyuruh Ibunya untuk
memasakkan lauk lebih cepat untuknya sarapan.Rasanya lebih sempurna ditambah
segelas air putih menyegarkan pikirannya.
“Sudah bu,Iqbal berangkat sekolah
dulu ya !” kemudian berdiri dan menghampiri Ibu tak lupa dia mencium tangannya.
“Sebentar, ini uang sakumu,” kata ibu
sembari merogoh tas pinggangnya.
“Itu tidak perlu bu,Saya masih punya
sisa uang jajan kemarin.Iqbalberangkat dulu ya !”
“Kalau begitu hati-hati di jalan ya
nak !” rasa sedih campur aduk dengan bangga punya anak sebaik Iqbal,namun apa
boleh buat ? perasaanya tak bisa dibohongi.
Iqbal
berangkat ke sekolah mengendarai motornya yang sudah lama dia gunakan sewaktu
masih SMP dulu,tidak bagus tapi setidaknya bisa digunakan mengantarkan dirinya
sampai di tujuan dengan selamat. Meski kadang harus pergi ke bengkel karena
motornya mogok di jalan.
***
“Tik... tik... tik... ,“jam sekolah
masih menunjukkan pukul 06:46,sekejap ia melihat jam dinding besar yang
terpajang sewaktu masih berkendara. Itu tanda ternyata keterlambatan bangun
tidurnya tak mampu mengalahkan dirinya.Sejenak Iqbal berdiri dan melangkahkan
kakinya memasuki halaman sekolah,jari-jari tangannya berusaha merapikan
rambutnya,tak pantas bila seorang pemuda membiarkan dirinya terlihat
berantakan,itu pula yang selalu ada dalam penampilannya meski sederhana yang
penting nyaman dipandang pikirnya.
Iqbal
kemudian menuju ke arah kelasnya,satu persatu ia memantapkan langkah kakinya
menaiki tangga. Terlihat beberapa teman sesekolahnya duduk di sepanjang bangku
di samping rak kosong yang sudah lama berdiam disana.
“Huh...Tama lupa tidak ya ?,pesanan
minggu kemarin harus tiba hari ini !” gumam Iqbal seraya berjalan menuju kelas
yang berada tak lebih dari seratus langkah dari tempatnya menaiki tangga.Sesekali
ia membenahi kacamatanya yang tak lagi berada tepat di depan matanya.
Dua
hari yang lalu sekolah diliburkan.katanya ada urusan mendadak yang harus segera
diselesaikan. Bagi siswa kebanyakan, libur adalah sesuatu yang menyenangkan, tak
hanya menyegarkan otak,ini merupakan kesempatan bersama dengan orang yang dicintai.Tapi
jangan anggap mereka berkumpul dengan keluarga,pastinya hal yang hanya
melampiaskan nafsu sesaat menjadi orientasi terbesar mayoritas pelajar remaja.Ya
ya ya remaja sekarang sudah tahu kemana-mana.Tak perlu diberi tahu juga sudah
tahu sendiri.
“Woy... teman-teman ! cewek
tercantik di kelas ini akhirnya datang.” seru pemuda yang duduk diatas meja dan
mengarahkan pandangan menghina pada orang yang baru saja melangkahkan kakinya
ke dalam kelas. Tak disangka orang yang datangitu ternyataIqbal,tak ada
ekspresi kesal atau marah sedikitpun diwajahnya.Apa mungkin karena ia tidak
peduli ? atau malah ia menyembunyikan rasa malu dan kekesalannya ? tentu hanya
ia sendiri yang tahu.
Iqbal
terus saja berjalan,pandangannya tertuju pada sebuah kursi yang ada di dekat
jendela.Sesampainya di sana ia menghela nafas, senyum kecil terukir di
wajahnya. Lucu ada orang yang mengatakan dia adalah perempuan tercantik di
kelas,karena memang tak ada satu pun perempuan yang belajar di kelas itu
pikirnya.
“Tercantik ?,kalo dia bicara seperti
itu... berarti ada banyak perempuan disini !,itu artinya...”,Iqbal tersenyum
lagi.
”...Rizal
dan teman-temannya juga perempuan”. Belum sempat membayangkan kalau saja mereka
semua berpakaian seperti perempuan.Tama menyela imajinasi yang bisa dibilang
kreatif. Hahaha...
“Ini yang aku bicarakan seminggu
yang lalu,desain terbaru,yang ku bawa cuma warna merah sama hitam.”kata Tama
sambil memperlihatkan kaos-kaos yang mereka jual secara online.Utamanya melalui facebook
yang bisa sudah jadi ‘kebutuhan’.
Memang
mereka memiliki banyak teman di luar sekolah. Setidaknya bisa mendapatkan uang
lebih, tak hanya sekadar mencari peluang bisnis di kemudian hari. Perkembangan
jaman begitu keras kalau saja tidak mempersiapkan diri sedari sekarang, mau
jadi apa nanti ? mumpung masih muda. Bersaing secara sehat apa salahnya ?
”It’s time to begin the first lesson......”,bel
masuk terdengar jelas.
Bersiap
memulai pelajaran,namun tentunya tidak semua senang belajar,andai saja semuanya
antusias mungkin Indonesia akan lebih baik dari yang sekarang,bukan semacam
ini. Apalagi sudah banyak wajah-wajah tikus yang disebarkan di media, tikus
besar tanpa ekor merebak dijalanan.
***
Malam hari tepatnya beberapa hari setelah
terjadi perdebatan dengan kakak. Di rumah serasa sepi, bukannya karena tidak
ada suara. Mereka hanya berdua, sudah sejak beberapa tahun yang lalu. Kejadian
ini hampir saja terulang setiap hari. Iqbal tak mampu menahan lagi,sewajarnya
ia berpikir memutar otak dan menggerakkan tubuhnya mengatur hidupnya yang cukup
singkat. beberapa jam yang lalu Ibu masuk ke kamar dan tidur. Mempersilahkan
mata beristirahat sejenak. Sudah larut malam, warung-warung jam segini tutup,
jalan di depan rumah juga sepi. Hanya suara jangkrik kecil dan nyamuk-nyamuk
yang beterbangan di gudang menemaninya. Awan mendung menghiasi malam di langit
biru kehitaman. Di sanalah Iqbal terduduk bersandar di kursi kayu belajarnya.
“Ayolah !, berapa kali lagi aku
harus melakukan ini ?” telepon genggamnya mendekat dan ditaruhnya menempel di
telinga. Mata Iqbal memerah, berulang kali ia melepas kacamata dan mengusap air
mata, tanda bahwa dirinya terus menerus menahan kantuk. Memaksanya terus
berpacu dalam liukan arus yang orang lain buatkan untuknya. Iqbal selalu
memikirkan masa depannya, ini juga yang membuatnya masih bertahan. Beberapa
kali ia terjatuh dan menyelami kekejaman dunia. Tidak puas karena teleponnya
tak pernah dijawab, Iqbal memutuskan untuk menidurkan tubuhnya. Tapi tetap saja
pikirannya tak bisa ia ubah, hingga semuanya terbawa dalam mimpi abstrak. Dan
mungkin saja menjadi nyata. Siapa tahu itu semua akan terjadi ?
Keesokan harinya, Iqbal pergi denganTama,
ia teman seperjuangan dari SMP. bisa dianggap sahabat tapi tidak sedekat itu
juga katanya. Mereka berboncengan naik sepeda motor bersama. Biasanya ke taman
sekedar mencari udara, cari wifi
gratis untuk download aplikasi
terbaru,film atau apapun yang mereka sukai. Melepas penat dari perjalanan yang
cukup lama, mereka memilih bersandar di bangku di bawah pohon besar yang
rindang. Matahari menyilaukan mata tapi tidak terasa panasnya, tertutup untaian
daun-daun sebagai atap tempat mereka bersandar.
“Tama... Tama... !” tiba-tiba Iqbal
memegang lengan kiri Tama, wajahnya kelihatan serius.
“Apa ?” jawab Tama spontan.
Memecahkan konsentrasinya pada sebuah gadget yang dibawanya.
“Itu ! (menunjuk ke arah pohon besar
yang ada di samping mereka,daunnya rimbun dan ada bangku pula dibawah
naungannya) lihat ada penampakan, yang satu rambutnya panjang.” Iqbal berkata
kepada Tama dengan nada yang meyakinkan. Rasanya seperti orang ketakutan.
Seketika itu juga bulu kuduk Tama serasa berdiri, tubuhnya terhentak merinding
ketakutan. Aneh, ada penampakan siang bolong seperti ini.Tama mencoba menoleh
ke arah pohon besar yang ditunjuk Iqbal. Alangkah kagetnya, ia benar-benar
melihatnya, seperti yang Iqbal katakan rambutnya panjang, memakai baju
putih-putih. Duduk di bangku dan tertunduk menghadap ke tanah membelakangi
mereka.
“Ah Iqbal, itukan orang sekolah baru
pacaran, masa dibilang penampakan. Tapi benar juga katamu orang pacaran lebih
menakutkan daripada hantu, ah tak bermutu. Hahaha !” Tama tertawa lebar begitu
pula Iqbal yang duduk disampingnya.Tama menghentikan tawanya “tapi ?, bukankah
kamu dulu sempat berhubungan dengan... anu
e maksudkusi... si anu itu e ee....”kata
Tamagugup, takut kalau saja ia menyinggung perasaan Iqbal. “Rahma maksudmu ?”
kata Iqbal segera, seraya menoleh melihat ke arah Tama dan mengernyitkan dahi.
Satu tahun yang lalu, ia menambatkan
cintanya pada seorang gadis pilihan hatinya. Mereka sudah saling suka sejak
kelas tiga SMP. Tidak pernah mereka berani mengungkapkan perasaan itu. Hemm, jinak-jinak
merpati rupanya. Belum waktunya untuk cinta-cintaan pikir mereka, tapi tetap
saja dijalani secara diam-diam, hanya mereka berdua yang tahu. Meski ujian nasional
berlangsung, Rahma terus saja memikirkan Iqbal. Dia tidak bisa melupakannya.
Kata sebagian besar orang, cinta itu hanya menjadi penghambat untuk fokus
sekolah. Ungkapan itu mungkin tidak berlaku bagi mereka. Mengubah faktor
penghambat menjadi faktor pendorong. Buktinya mereka berhasil meraih peringkat
paralel lima besar di sekolah. Wah berpikir positif itu perlu. Tapi hanya
segelintir orang saja yang mampu melakukannya, tentu dengan kemauan besar dan
motivasi yang kuat.
“Ah sudahlah, aku tidak pernah bertemu
dengannya, tapi jangan tanya bagaimana aku pacaran dengannya !” kata Iqbal agak
kesal, mengingatkannya pada orang yang pernah di hatinya dan sebenarnya masih
ada di hatinya.
“Ingat, pendaftaran seleksi kuliah
gratis ke Jepang oleh perusahaan besar ‘global
of japan’ sudah dekat, katanya sih satu atau dua bulan lagi, aku akan lihat
di website mereka.”
“Aku juga akan coba Monbukagakhuso, meski untuk diterima
disana...rasanya seperti menguras kolam ikan di sekolah dengan kemasan air
minum berlubang, aku sudah daftar dan kirim tertulisnya, tinggal menunggu
dipanggil.” Kata Iqbal penuh harap.
Mereka benar-benar yakin akan lulus
seleksi, setidaknya sampai masuk seleksi antar negara dan bersaing dengan orang
asing di luar sana. Sudah sedari masuk keSMK mereka mempersiapkan diri mulai
dari fisik,psikis dan yang terpenting intelektual. Sudah banyak kehidupan
remaja mereka yang harus dikorbankan demi beasiswa itu.
***
Cuaca begitu panas, tidak terasa
keringat membasahi tubuh mereka. Iqbal pun bangkit dari bangku dan berkata pada
Tama bahwa ia akan membeli minuman untuk mengobati rasa hausnya. Ia pergi
sendirian dengan berjalan kaki ke sebuah toko yang lumayan jauh dari tempat
mereka di taman. Ia hampir sampai di toko yang ia tuju. Telepon genggamnya
bergetar di saku belakang. Ia pun berhenti sejenak di dekat pohon besar untuk
membalas pesan. Sekawanan orang yang mengendarai sepeda motor berhenti di
depannya dan menghampirinya, dengan menggunakan masker yang menutupi wajah
bagian bawah mereka.
“Ada apa mas ?” tanya Iqbal pelan
pada mereka.
“Ahh kamu tidak perlu tahu.” Kata
seorang pria yang berdiri paling depan dari Iqbal.
Beberapa saat
kemudian...
Tama
masih menunggu kedatangan Iqbal yang katanya hendak mencari minuman di toko
yang tidak jauh dari keberadaannya di taman, namun sudah hampir satu jam Iqbal
tidak kembali ke taman menemui Tama. Tama mencoba menelponnya. Sudah berulang
kali namun tidak satupun ada yang diangkat olehnya. Setelah lama menunggu,
akhirnya Iqbal mengirimi Tama sebuah pesan singkat.
“Tama, cepatlah kemari ! aku ada di
jalan ke arah toko Anugrah Mart,
cepatlah kemari !” jari jemarinya tidak kuat lagi mengetik kata-kata yang ingin
diungkapkannya. Tama sesegera mungkin menuju lokasi yang dimaksud Iqbal. Tidak
disangka-sangka, terlihatIqbal tergeletak lemah menyandarkan dirinya di pohon
besar. Dari kejauhan Tama berlari, bergegas ke arah Iqbal dengan tas punggung
yang dibawanya.
“Iqbal, apa yang terjadi padamu ?,
mengapa kamu jadi seperti ini ?” tanya Tama dengan wajah panik. Melihat
temannya terduduk lunglai di atas tanah.
“Jangan bicarakan hal ini ke Ibuku
!, aku tidak ingin Ibu khawatir.”
Tama
segera membawanya ke rumah sakit terdekat, diboncengkanlah ia di sepeda motor
yang mereka bawa ke taman. Kaki dan tangannya hampir patah, beberapa tanda biru
membekas di bagian tubuhnya, di pipi, di punggung, di tangan, di pelipis,
bahkan terdapat luka sobekan di pergelangan atas tangan kanannya yang membuat
ia harus mendapat empat jahitan luar dan tiga jahitan dalam. Tubuhnya tak mampu
berdiri lagi, lemas tak berdaya dan matanya berkunang-kunang. Tapi untung saja
kacamatanya tidak pecah, hanya sedikit kotor karena terjatuh.
Meski
ada yang mengganjal di hati Tama, apa gerangan sampai-sampai Iqbal dipukuli
orang dan babak belur seperti apa yang dilihatnya. “Telahkah Iqbal melakukan
sesuatu yang tidak-tidak dan dipukuli ?, atau... ada yang merampoknya ?, dan
mungkin saja dia punya musuh yang tak aku ketahui ?” hati Tama bertanya-tanya,
beberapa kali ia mencoba mengatakannya pada Iqbal tetapi sulit terucap. Mungkinkah
Rizal ?, karena beberapa hari yang lalu, ia dipaksa Rizal untuk merokok dan
mengancam akan memberinya pelajaran jika tidak mau. Biarlah rasa penasaran itu
menghantuinya, toh nanti akan lupa sendiri.
Malam
harinya Iqbal memutuskan diri untuk menginap di rumah Tama. Kebetulan orang tua
Tama sedang pergi ke luar kota ada urusan keluarga. Sesegera mungkin Iqbal
menghubungi Ibunya, takut kalau saja ibunya telah khawatir, menunggu lama
sendiri di rumah. Ia tidak ingin berkata bohong tapi apa boleh buat. Ia bicara
kalau ia ingin menginap di rumah Tama karena ada banyak tugas sekolah yang
harus diselesaikan. Tak terasa beban berat yang harus dipikulnya, ia mengejar
impiannya untuk bersekolah setinggi mungkin dan jadi orang sukses di kemudian
hari.Tetapi ada saja hambatan yang menghadang.
Setiap
hari Iqbal belajar, ia tidak mengenal waktu. Sampai tengah malam menghampirinya
pun ia masih saja mengotak-atik buku-buku dan laptop yang ada di kamarnya.
Pantas saja kamarnya sering berantakan, berjajar buku-buku yang mengantri dan
siap menunggu giliran untuk dibaca.
Pada
suatu malamRahma tampak gelisah, beberapa kali ia melamun dan melukiskan
kesedihan di wajahnya. Ada apa gerangan yang terjadi, ada suatu perasaan aneh
yang menghantuinya. Ia membaringkan diri di atas kasur, mengamati langit-langit
rumah dan kemudian melamun lagi. Telepon genggamyang berada di samping kirinya ia
ambil dan mulai menggerakkan jarinya yang sudah kaku. Tidak ada hujan diluar
rumah, ia juga tidak sedang sakit namun tubuhnya gemetaran, dingin dan ketakutan.
“Iqbal !” “Iqbal !” gumam Rahma
dalam sunyinya malam gelap.
Rahma
bertanya kepada Tama, bagaimana kondisi pria yang dulu pernah singgah dihatinya
itu, apakah dia baik-baik saja atau bagaimana ?. sudah dua minggu ini Iqbal
hampir tidak masuk sekolah, dan tidak sekalipun ia memberitahukan aktivitasnya
selama ini. Seleksi kurang dari satu bulan lagi, tapi Iqbal malah tidak jelas
entah apa yang dilakukannya. Tama sudah menghubunginya berulang kali, masih
tidak ada jalan keluar dari rasa ingin tahu mereka. Tidak sabar untuk terus
menunggu kepastian dari Iqbal, mereka memutuskan untuk menemui Iqbal dirumahya.
Namun, dua kali sudah mereka ke rumah Iqbal, hasilnya nihil. Rumahnya sepi,
tetangganya juga tak tahu apa yang terjadi,
***
“Kak, cepatlah pulang !, Ibu dirawat
di rumah sakit.” KataIqbal melalui pesan singkat.
Terakhir
kali ia tidur satu atap dirumah bertiga satu bulan lebih yang lalu. Orang yang
dulu ditinggi-tinggikan menjadi tulang punggung keluarga kini hanya menjadi
sampah, tak berguna. Iya !,Hendra pergi meninggalkan rumah dan memilih hidup
dengan kekasihnya yang belum tentu jelas akhirnya. DuluHendra berusaha membantu
mereka dalam berbagai hal, tapi nyatanya sekarang mereka tak bersama lagi.
Alhasil berkat kerja keras serta do’a Ibu, Iqbal mampu mengenyam pendidikan dan
berhasil mengantarkanHendra ke perguruan tinggi yang cukup terkenal
dimana-mana.
“Assalamu’alaikum... Ibu ? Iqbal ?,
kakak pulang nih.” Seru Hendra seraya membuka pintu depan.
Seketika
itu juga Iqbal terkejut dari lamunannya mendengar suara kakaknya,kak Hendra. Perasaan
sedih, kesal, marah, dan pasrah menderanya begitu ganas. Ia segera bangkit dari
bangku dan memantapkan langkahnya menghampiri Hendra, wajahnya berkeringat dan
tubuhnya terasa menyala-nyala. Tangan kiri Iqbal yang baru saja sembuh dari
patah tulang itu mencengkeram kuat kerah baju Hendra, ingin ia memukul keras
wajah kakaknya itu sampai membiru dan berdarah. Namun segera ia urungkan
niatnya, tak berdaya lagi dirinya kala itu. Entah apa yang ia pikirkan,
sebelumnya ia tidak pernah merasa semarah itu. Hendra membisu, membiarkan
dirinya hancur di tangan adik satu-satunya.
“Kak, kenapa kakak pulang ? kukira
kakak akan pergi meninggalkan kami dan lebih memilih wanita itu.” Kata Iqbal
menahan amarahnya.
“Aku
sudah memutuskan dia, kakak sadar kalau selama ini tidak ada gunanya berada di
sampingnya sedangkan kamu lebih membutuhkan aku.”
“Heh
(tersenyum), cukuplah hanya kepergian ayah yang meninggalkan kita begitu saja,
aku tidak ingin jadi sepertinya.”
Sejak
kecil Iqbal telah kehilangan kasih sayang seorang ayah, ayahnya pergi
meninggalkan ibu, hendra dan iqbal begitu saja. Sudah sering ayah pergi hanya
sekedar menghambur-hamburkan uang untuk berjudi, mabuk-mabukan, atau berkumpul
bersama teman-temannya yang sama tabiatnya. Karena kepergian ayah pula, saat
Iqbal SMP mereka memilih pindah pulang ke kampung halaman ibu di luar kota. Dan
tak lagi di rumah ayah di kota besar.
Perlahan
tangan Iqbal melepas genggamannya, ia membuang muka dan pergi ke kamar. Kak Hendra
meminta maaf sudah membuat mereka berdua menderita. Biarpun tangan adik
kandungnya sendiri akan menghantam kuat ke wajahnya. Iqbal segera bergegas,
menyiapkan perlengkapan. Hendra merasa ada sesuatu yang kurang dirumah pagi
itu, sepi terdengar suara lalu lalang kendaraan di depan rumah. Melihat Iqbal
memakai baju yang agak asing dimata Hendra dan tak biasanya di pertengahan
minggu ia tidak berangkat ke sekolah.
“Iqbal, kamu mau kemana ? apa
seragam sekolahmu ganti ?” tanya Hendra, memandang ke arah Iqbal yang sedang
menyalakan motor.
“Ibu dirawat di rumah sakit dan....membutuhkan
uang yang cukup banyak,aku harus bekerja, meski...Ibusudah melarangku untuk itu.”
Kata Iqbal.
Sejak
kecilIqbalsering membantu Ibunya berdagang pakaian di pasar, dan setelah ayah
pergi meninggalkan mereka begitu saja tanpa ada tanggung jawab yang jelas. Hendra
membantu menopang tiang perekonomian mereka bertiga.
Hendra
keheranan kemudian menghampiri Iqbal dan memegang pundaknya perlahan. Hendra
meyuruh Iqbal untuk mengurungkan niatnya berangkat bekerja. Namun Iqbal tetap pergi
mengendarai motornya dengan hati yang mantap. Menyusul kepergian Iqbal, Hendra
mengendarai motornya menuju rumah sakit tempat ibu berada.
***
Tama
dan Rahma bertemu lagi untuk membahas perihal kepergian Iqbal yang tanpa sebab.
Mereka berdua sudah sering mendatangi rumah Iqbal namun tidak ada hasil, begitu
pula teman-temannya yang lain juga tidak mengetahui akan hal itu. Kali ini
mereka bertemu di sebuah restoran makanan cepat saji, Rahma memanggil salah
satu pelayan untuk memesan hidangan. Sambil sesekali berbincang mencari solusi,
keduanya menunggu pesanan.
“Dug, dug, dug.” Suara sepatu
pramusaji yang datang membawakan pesanan. Mereka pun menghentikan perbincangan
dan menyambut mas pramusaji itu.
“Loh ?, Iqbal ?” kata Tama dan Rahma
serentak. Tidak disangka-sangka ternyata di meja lain terdapat Iqbal teman
dekat mereka. Iqbal menoleh ke arah mereka, dalam hatinya, ia ketakutan dan
was-was akan apa yang ia kerjakan. Rahma bergegas menghampirinya begitu pulaTama
menyusul di belakang. Rahma menarik bajuIqbal dan mengajaknya ke tempat yang
agak sepi di dalam restoran. Mata Rahma berkaca-kaca menahan air mata, tapi
kemudian tetesan itu meluncur juga menuruni kedua pipinya. Ingin Iqbal mengusap
air mata Rahma tetapi takut entah mengapa, hanya bisa dengan kata-kata kecil
agar ia tidak bersedih lagi.
“Rahma, aku minta maaf. dulu...”
kata Iqbal lirih.
“Kamu tidak perlu minta maaf, aku
sudah bisa mengerti sekarang.” “kami menghawatirkanmu, apa kamu bekerja disini
?, kata Tama kamu hampir tidak masuk sekolah tiga minggu ini.” Seru Rahma agak
tergesa-gesa, menatap mata Iqbal dan sesekali menunduk tidak kuasa menahan
tangis. Sudah lama mereka tidak bertemu. Terakhir kali saat keduanya bersama di
acara gladi bersih perpisahan kelulusan SMP mereka. Iqbal meminta maaf karena
telah membuat mereka khawatir. Semua itu ia lakukan untuk kesembuhan Ibunya.
Setelah 66 hari yang panjang, Iqbal memutuskan Rahma. keduanya telah bertekad
untuk serius belajar dan meraih hal yang mereka impikan. Dan kali ini keduanya
telah tiba di depan pintu gerbang kesuksesan pendidikan, menunggu untuk
membukanya dan memasuki dunia karir.
Malam
harinya Hendra dan Iqbal menemani Ibu yang sedang dirawat di rumah sakit. Meski
Iqbal tidak masuk sekolah, ia tetap mengerjakan semua tugasnya. Ada kalanya ia
harus bertanya pada Tama, beberapa hal yang tidak ia mengerti selama ia bekerja
di restoran.
“Besok tidak perlu lagi kamu pergi
bekerja, seleksi akan diadakan lusa dan kamu harus mempersiapkan semua
keperluanmu untuk menghadapinya !” kata Hendra sedikit memaksa. ia menuruti apa
yang diperintahkan kakaknya itu. Biaya operasi telah lunas dibayar.
***
Langkah
kaki Iqbal menggema menyusuri lobi rumah sakit yang luas dengan dinding putih
bertepi hijau terang, satu per satu air matanya menetes, badannya gemetar dan
berkeringat. Ia sedikit berlari menuju ruang ibu dirawat. Disana bersandarlah Rahma
dan kak Hendra di luar ruangan, terduduk di kursi tunggu. Dokter membuka pintu
dari dalam dan keluar menemui mereka. Menyampaikan beberapa kabar yang harus
mereka ketahui tentang ibu.
“Ehm, alhamdulillah....pelaksanaan
operasi cangkok ginjal kemarin lusa berhasil, dan kalian sudah bisa berbincang
dengannya sekarang. Sebelum saya kembali ke ruangan, apakah ada yang bisa saya
bantu ?” kata dokter yang telah selesai memeriksa.
Setelah
dokter pergi meninggalkan tempat, ketiganya memasuki ruangan. Hening, pelan langkah kaki mengiringi rasa haru dan
kegembiraan yang merasuk di hati. Ibu memandang Iqbal dan Hendra, terukir
senyum di antara mereka. Sementara Rahma
terdiam seribu bahasa, berdiri di dekat pintu di belakang Iqbal.
“Ibu, aku dan Tama lolos beasiswa ke
Jepang di fakultas teknik global of japan, dan tahun depan aku akan mulai
kuliah.” Kata Iqbal, dengan begitu semangatnya ia menyampaikan kabar gembira
itu.
Beberapa hari yang lalu Iqbal dan
Tama mengikuti seleksi penerima beasiswa di kantor GOJ (Global of Japan), juga
tes-tes yang dilalui mereka sedemikian beratnya. Dan akhirnya lolos dengan
nilai yang tinggi.
Iqbal
tak pernah berani mengungkapkan perasaannya pada siapapun kecuali sahabatnya
sendiri. Memegang tangan ibunya dan tersenyum. Menoleh ke arah Rahma dan
berkata bahwa gadis itu adalah inspirasinya dan memohon agar ibu merestui
hubungan mereka.Rahma tidak mendengar sepatah katapun dari perbincangan mereka.
Hanya senyum dan kebahagiaan yang terpancar dalam raut wajah. Ibu melihat dan
sesekali mengamati Rahma. Sedangkan kak Hendra sedang mengurus administrasi kepulangan
Ibu dari rumah sakit.
“Rahma,
aku ingin kita tidak hanya bersama sesingkat seperti dulu kita..., ya ! aku mau
kita tunangan !” kata Iqbal di dalam ruangan ibu dirawat.
Sontak
kata-kata itu membuat Rahma kaget, ia sedikit tertawa. “aku tahu kamu serius,
kita lakukan itu kalau sudah lulus saja. Tidak ada salahnya menunggu kan ?”
“Ya,
sudah ku pikirkan ini matang-matang, setelah lulus nanti aku akan ke Jepang dan
mungkin aku hanya akan ke Indonesia maksimal setahun sekali.” Mereka dikejutkan
dengan kedatangan Hendra yang membawa bukti lunas.
Kondisi
Ibu sudah cukup membaik, Iqbal dan Hendra membawa Ibu pulang dengan mengendarai
mobil Tama yang sudah tiba di depan rumah sakit beberapa menit yang lalu.
Enam bulan kemudian...
Iqbal
memakai mantel hangatnya dan melangkahkan kaki menuruni tangga, bersama Tama ia
merajut pendidikannya di negeri sakura yang begitu ia inginkan selama ia
bersekolah dulu.
---***---
