Jumat, 09 Oktober 2015



66 HARI
Oleh :Tri Rahayu Nur Rohmah

Gedung kesenian sudah ramai sejak dari pagi.Kursi-kursi, bunga-bunga, spanduk, dan peralatan lainnya juga sudah tertata beberapa hari yang lalu.Cahaya lampu menyilaukan mata berbaris mengikuti ruang luas,megah memang tampak dari dalam sini.”Deg deg deg”,  jantungnya berdetak begitu kencang,ia duduk dibarisan tengah bersama teman-teman sekelasnya. Kali ini terlihat lebih menawan memakai jas hitam berdasi merah dengan garis-garis putih,”Waduh seperti pejabat mau rapat saja.”Celetuk pria muda yang duduk dibelakang,tak ada kegaduhan seperti di kelas maklum semua tamu undangan dan orang-orang penting di sekolah duduk di barisan depan dengan kursi sofa dan meja.Setelah orang-orang itu duduk di kursi yang telah tertata,acara pun dimulai,namun suasana begitu tenang. Semua hadirin memperhatikan pembawa acara yang berdiri di atas panggung.
            ”Baik,sekarang tibalah saat yang kita tunggu-tunggu,pasti semua yang hadir disini penasarankan ?”tanya si pembawa acara,orang-orang yang datang melihat satu sama lain,menanti seseorang yang begitu luar biasa hingga ia jadi siswa terbaik,”langsung saja kita sambutperaih peringkat satu siswa terbaik SMK Airlangga...”.
”Iqbal,Iqbal,Iqbal.....”belum selesai pembawa acara berbicara sebagian besar murid yang menghadiri acara bersorak dengan penuh semangat dan optimis Iqbal pasti yang akan menyandang predikat itu,karena cuma dia yang layak dan pantas menerimanya.Sementara itu Iqbal hanya bisa menundukkan kepalanya dan tersenyum dibalik tangannya yang menutupi sebagian wajahnya karena tersipu malu.
”Beri tepuk tangan kepada saudaraIqbal Aji Nugraha.....,” seru pembawa acara.
Semua orang bertepuk tangan menyambut dirinya dengan riang, ia pun berdiri mempersiapkan dirinya di depan kursi yang Ia tempati. Berbagai pasang mata melihatnya dengan bangga.
“Iqbal...bangun sudah pagi !”Ibunya berusaha membangunkan Iqbal dari tidurnya,ibu menarik-narik tangannya,memang tak begitu keras dan kuat mungkin karena usianya yang sudah hampir setengah abad.
”Ah Ibu,Iqbal belum maju ke depan sudah dibangunkan”
“Loh ke depan ? ke depan mana ?”
”Iya ke depan !,Iqbalkan dapat predikat siswa terbaik di perpisahan sekolah...”
”Hem, kamu sih bangun kesiangan sudah jam berapa ini ?, ini sudah jam setengah enam,pakai acara mimpi segala...sudah,sholat dulu sana !,nanti terlambat lho”
“Iya bu” jawab Iqbal dengan suara yang tidak begitu jelas,seraya beranjak dari tikar alas tidurnya.
Tangan kanan Iqbal mencoba meraih kacamata yang diletakkannya di atas meja belajar. Meski pandangan mata yang tak begitu jelas untuk melihat,Iqbal sudah tidak kesulitan lagi menemukan kacamatanya,ia tentu sudah hafal dimana ia menaruhnya.Penyakit miopy yang diderita Iqbal sejak masih kecil memaksanya untuk memakai kacamata berlensa minus dan tentu sekarang sudah menjadi sahabat sejatinya sejak dua tahun yang lalu.Mungkin ketika masih SMP ia hanya memakai kacamata saat merasa tidak bisa lagi melihat dari kejauhan, tapi tentu seiring waktu keadaan akan terus berubah.
Hari masih pagi Iqbal begitu bersemangat untuk sekolah,meski bangun kesiangan,dia tak pernah merasa kerepotan.Semua yang harus dibawa ke sekolah sudah Dia siapkan sejak kemarin malam.Mungkin hanya membutuhkan waktu tiga puluh sampai empat puluh lima menit baginya untuk mandi dan mempersiapkan peralatan ke sekolah.Di kamarnya yang sederhana,Iqbal mempersiapkan semuanya. Memang agak berantakan. Bajunya berserakan , ada yang tergantung di lemari, di meja bahkan ada yang di lantai,kertas-kertas hanya dibiarkan di atas meja belajar,bahkan kabel-kabel kecil pun berada di sudut ruangannya. Hemm,masih untung pasar tidak berpindah ke dalam kamarnya yang tak terlalu luas itu.
“Pagi pria tampan...!”,bayangan dirinya di kaca lemari berbicara kepadanya.Pagi ini dia memulai dengan sesuatu yang membuatnya tertawa sendiri. Ya ! menghibur diri sendiri itu penting.
Iqbal pun keluar dari kamar dan menyalakan motor yang terparkir di ruang tamu,sembari menunggu mesin motornya memanas,lalu pergi ke dapur duduk di sebuah kursi kayu dan menyantap beberapa sendok nasi yang sudah siap di piring sejak tadi. Memang hambar, tapi baginya itu sudah cukup. Tidak berani Iqbal menyuruh Ibunya untuk memasakkan lauk lebih cepat untuknya sarapan.Rasanya lebih sempurna ditambah segelas air putih menyegarkan pikirannya.
            “Sudah bu,Iqbal berangkat sekolah dulu ya !” kemudian berdiri dan menghampiri Ibu tak lupa dia mencium tangannya.
            “Sebentar, ini uang sakumu,” kata ibu sembari merogoh tas pinggangnya.
            “Itu tidak perlu bu,Saya masih punya sisa uang jajan kemarin.Iqbalberangkat dulu ya !”
            “Kalau begitu hati-hati di jalan ya nak !” rasa sedih campur aduk dengan bangga punya anak sebaik Iqbal,namun apa boleh buat ? perasaanya tak bisa dibohongi.
Iqbal berangkat ke sekolah mengendarai motornya yang sudah lama dia gunakan sewaktu masih SMP dulu,tidak bagus tapi setidaknya bisa digunakan mengantarkan dirinya sampai di tujuan dengan selamat. Meski kadang harus pergi ke bengkel karena motornya mogok di jalan.
***
            “Tik... tik... tik... ,“jam sekolah masih menunjukkan pukul 06:46,sekejap ia melihat jam dinding besar yang terpajang sewaktu masih berkendara. Itu tanda ternyata keterlambatan bangun tidurnya tak mampu mengalahkan dirinya.Sejenak Iqbal berdiri dan melangkahkan kakinya memasuki halaman sekolah,jari-jari tangannya berusaha merapikan rambutnya,tak pantas bila seorang pemuda membiarkan dirinya terlihat berantakan,itu pula yang selalu ada dalam penampilannya meski sederhana yang penting nyaman dipandang pikirnya.
Iqbal kemudian menuju ke arah kelasnya,satu persatu ia memantapkan langkah kakinya menaiki tangga. Terlihat beberapa teman sesekolahnya duduk di sepanjang bangku di samping rak kosong yang sudah lama berdiam disana.
            “Huh...Tama lupa tidak ya ?,pesanan minggu kemarin harus tiba hari ini !” gumam Iqbal seraya berjalan menuju kelas yang berada tak lebih dari seratus langkah dari tempatnya menaiki tangga.Sesekali ia membenahi kacamatanya yang tak lagi berada tepat di depan matanya.
Dua hari yang lalu sekolah diliburkan.katanya ada urusan mendadak yang harus segera diselesaikan. Bagi siswa kebanyakan, libur adalah sesuatu yang menyenangkan, tak hanya menyegarkan otak,ini merupakan kesempatan bersama dengan orang yang dicintai.Tapi jangan anggap mereka berkumpul dengan keluarga,pastinya hal yang hanya melampiaskan nafsu sesaat menjadi orientasi terbesar mayoritas pelajar remaja.Ya ya ya remaja sekarang sudah tahu kemana-mana.Tak perlu diberi tahu juga sudah tahu sendiri.
            “Woy... teman-teman ! cewek tercantik di kelas ini akhirnya datang.” seru pemuda yang duduk diatas meja dan mengarahkan pandangan menghina pada orang yang baru saja melangkahkan kakinya ke dalam kelas. Tak disangka orang yang datangitu ternyataIqbal,tak ada ekspresi kesal atau marah sedikitpun diwajahnya.Apa mungkin karena ia tidak peduli ? atau malah ia menyembunyikan rasa malu dan kekesalannya ? tentu hanya ia sendiri yang tahu.
Iqbal terus saja berjalan,pandangannya tertuju pada sebuah kursi yang ada di dekat jendela.Sesampainya di sana ia menghela nafas, senyum kecil terukir di wajahnya. Lucu ada orang yang mengatakan dia adalah perempuan tercantik di kelas,karena memang tak ada satu pun perempuan yang belajar di kelas itu pikirnya.
            “Tercantik ?,kalo dia bicara seperti itu... berarti ada banyak perempuan disini !,itu artinya...”,Iqbal tersenyum lagi.
”...Rizal dan teman-temannya juga perempuan”. Belum sempat membayangkan kalau saja mereka semua berpakaian seperti perempuan.Tama menyela imajinasi yang bisa dibilang kreatif. Hahaha...
            “Ini yang aku bicarakan seminggu yang lalu,desain terbaru,yang ku bawa cuma warna merah sama hitam.”kata Tama sambil memperlihatkan kaos-kaos yang mereka jual secara online.Utamanya melalui facebook yang bisa sudah jadi ‘kebutuhan’.
Memang mereka memiliki banyak teman di luar sekolah. Setidaknya bisa mendapatkan uang lebih, tak hanya sekadar mencari peluang bisnis di kemudian hari. Perkembangan jaman begitu keras kalau saja tidak mempersiapkan diri sedari sekarang, mau jadi apa nanti ? mumpung masih muda. Bersaing secara sehat apa salahnya ?
It’s time to begin the first lesson......”,bel masuk terdengar jelas.
Bersiap memulai pelajaran,namun tentunya tidak semua senang belajar,andai saja semuanya antusias mungkin Indonesia akan lebih baik dari yang sekarang,bukan semacam ini. Apalagi sudah banyak wajah-wajah tikus yang disebarkan di media, tikus besar tanpa ekor merebak dijalanan.
***
            Malam hari tepatnya beberapa hari setelah terjadi perdebatan dengan kakak. Di rumah serasa sepi, bukannya karena tidak ada suara. Mereka hanya berdua, sudah sejak beberapa tahun yang lalu. Kejadian ini hampir saja terulang setiap hari. Iqbal tak mampu menahan lagi,sewajarnya ia berpikir memutar otak dan menggerakkan tubuhnya mengatur hidupnya yang cukup singkat. beberapa jam yang lalu Ibu masuk ke kamar dan tidur. Mempersilahkan mata beristirahat sejenak. Sudah larut malam, warung-warung jam segini tutup, jalan di depan rumah juga sepi. Hanya suara jangkrik kecil dan nyamuk-nyamuk yang beterbangan di gudang menemaninya. Awan mendung menghiasi malam di langit biru kehitaman. Di sanalah Iqbal terduduk bersandar di kursi kayu belajarnya.
            “Ayolah !, berapa kali lagi aku harus melakukan ini ?” telepon genggamnya mendekat dan ditaruhnya menempel di telinga. Mata Iqbal memerah, berulang kali ia melepas kacamata dan mengusap air mata, tanda bahwa dirinya terus menerus menahan kantuk. Memaksanya terus berpacu dalam liukan arus yang orang lain buatkan untuknya. Iqbal selalu memikirkan masa depannya, ini juga yang membuatnya masih bertahan. Beberapa kali ia terjatuh dan menyelami kekejaman dunia. Tidak puas karena teleponnya tak pernah dijawab, Iqbal memutuskan untuk menidurkan tubuhnya. Tapi tetap saja pikirannya tak bisa ia ubah, hingga semuanya terbawa dalam mimpi abstrak. Dan mungkin saja menjadi nyata. Siapa tahu  itu semua akan terjadi ?
            Keesokan harinya, Iqbal pergi denganTama, ia teman seperjuangan dari SMP. bisa dianggap sahabat tapi tidak sedekat itu juga katanya. Mereka berboncengan naik sepeda motor bersama. Biasanya ke taman sekedar mencari udara, cari wifi gratis untuk download aplikasi terbaru,film atau apapun yang mereka sukai. Melepas penat dari perjalanan yang cukup lama, mereka memilih bersandar di bangku di bawah pohon besar yang rindang. Matahari menyilaukan mata tapi tidak terasa panasnya, tertutup untaian daun-daun sebagai atap tempat mereka bersandar.
            “Tama... Tama... !” tiba-tiba Iqbal memegang lengan kiri Tama, wajahnya kelihatan serius.
            “Apa ?” jawab Tama spontan. Memecahkan konsentrasinya pada sebuah gadget yang dibawanya.
            “Itu ! (menunjuk ke arah pohon besar yang ada di samping mereka,daunnya rimbun dan ada bangku pula dibawah naungannya) lihat ada penampakan, yang satu rambutnya panjang.” Iqbal berkata kepada Tama dengan nada yang meyakinkan. Rasanya seperti orang ketakutan. Seketika itu juga bulu kuduk Tama serasa berdiri, tubuhnya terhentak merinding ketakutan. Aneh, ada penampakan siang bolong seperti ini.Tama mencoba menoleh ke arah pohon besar yang ditunjuk Iqbal. Alangkah kagetnya, ia benar-benar melihatnya, seperti yang Iqbal katakan rambutnya panjang, memakai baju putih-putih. Duduk di bangku dan tertunduk menghadap ke tanah membelakangi mereka.
            “Ah Iqbal, itukan orang sekolah baru pacaran, masa dibilang penampakan. Tapi benar juga katamu orang pacaran lebih menakutkan daripada hantu, ah tak bermutu. Hahaha !” Tama tertawa lebar begitu pula Iqbal yang duduk disampingnya.Tama menghentikan tawanya “tapi ?, bukankah kamu dulu sempat berhubungan dengan... anu e maksudkusi... si anu itu e ee....”kata Tamagugup, takut kalau saja ia menyinggung perasaan Iqbal. “Rahma maksudmu ?” kata Iqbal segera, seraya menoleh melihat ke arah Tama dan mengernyitkan dahi.
            Satu tahun yang lalu, ia menambatkan cintanya pada seorang gadis pilihan hatinya. Mereka sudah saling suka sejak kelas tiga SMP. Tidak pernah mereka berani mengungkapkan perasaan itu. Hemm, jinak-jinak merpati rupanya. Belum waktunya untuk cinta-cintaan pikir mereka, tapi tetap saja dijalani secara diam-diam, hanya mereka berdua yang tahu. Meski ujian nasional berlangsung, Rahma terus saja memikirkan Iqbal. Dia tidak bisa melupakannya. Kata sebagian besar orang, cinta itu hanya menjadi penghambat untuk fokus sekolah. Ungkapan itu mungkin tidak berlaku bagi mereka. Mengubah faktor penghambat menjadi faktor pendorong. Buktinya mereka berhasil meraih peringkat paralel lima besar di sekolah. Wah berpikir positif itu perlu. Tapi hanya segelintir orang saja yang mampu melakukannya, tentu dengan kemauan besar dan motivasi yang kuat.
            “Ah sudahlah, aku tidak pernah bertemu dengannya, tapi jangan tanya bagaimana aku pacaran dengannya !” kata Iqbal agak kesal, mengingatkannya pada orang yang pernah di hatinya dan sebenarnya masih ada di hatinya.
            “Ingat, pendaftaran seleksi kuliah gratis ke Jepang oleh perusahaan besar ‘global of japan’ sudah dekat, katanya sih satu atau dua bulan lagi, aku akan lihat di website mereka.”
            “Aku juga akan coba Monbukagakhuso, meski untuk diterima disana...rasanya seperti menguras kolam ikan di sekolah dengan kemasan air minum berlubang, aku sudah daftar dan kirim tertulisnya, tinggal menunggu dipanggil.” Kata Iqbal penuh harap.
            Mereka benar-benar yakin akan lulus seleksi, setidaknya sampai masuk seleksi antar negara dan bersaing dengan orang asing di luar sana. Sudah sedari masuk keSMK mereka mempersiapkan diri mulai dari fisik,psikis dan yang terpenting intelektual. Sudah banyak kehidupan remaja mereka yang harus dikorbankan demi beasiswa itu.
***
            Cuaca begitu panas, tidak terasa keringat membasahi tubuh mereka. Iqbal pun bangkit dari bangku dan berkata pada Tama bahwa ia akan membeli minuman untuk mengobati rasa hausnya. Ia pergi sendirian dengan berjalan kaki ke sebuah toko yang lumayan jauh dari tempat mereka di taman. Ia hampir sampai di toko yang ia tuju. Telepon genggamnya bergetar di saku belakang. Ia pun berhenti sejenak di dekat pohon besar untuk membalas pesan. Sekawanan orang yang mengendarai sepeda motor berhenti di depannya dan menghampirinya, dengan menggunakan masker yang menutupi wajah bagian bawah mereka.
            “Ada apa mas ?” tanya Iqbal pelan pada mereka.
            “Ahh kamu tidak perlu tahu.” Kata seorang pria yang berdiri paling depan dari Iqbal.
Beberapa saat kemudian...
Tama masih menunggu kedatangan Iqbal yang katanya hendak mencari minuman di toko yang tidak jauh dari keberadaannya di taman, namun sudah hampir satu jam Iqbal tidak kembali ke taman menemui Tama. Tama mencoba menelponnya. Sudah berulang kali namun tidak satupun ada yang diangkat olehnya. Setelah lama menunggu, akhirnya Iqbal mengirimi Tama sebuah pesan singkat.
            “Tama, cepatlah kemari ! aku ada di jalan ke arah toko Anugrah Mart, cepatlah kemari !” jari jemarinya tidak kuat lagi mengetik kata-kata yang ingin diungkapkannya. Tama sesegera mungkin menuju lokasi yang dimaksud Iqbal. Tidak disangka-sangka, terlihatIqbal tergeletak lemah menyandarkan dirinya di pohon besar. Dari kejauhan Tama berlari, bergegas ke arah Iqbal dengan tas punggung yang dibawanya.
            “Iqbal, apa yang terjadi padamu ?, mengapa kamu jadi seperti ini ?” tanya Tama dengan wajah panik. Melihat temannya terduduk lunglai di atas tanah.
            “Jangan bicarakan hal ini ke Ibuku !, aku tidak ingin Ibu khawatir.”
Tama segera membawanya ke rumah sakit terdekat, diboncengkanlah ia di sepeda motor yang mereka bawa ke taman. Kaki dan tangannya hampir patah, beberapa tanda biru membekas di bagian tubuhnya, di pipi, di punggung, di tangan, di pelipis, bahkan terdapat luka sobekan di pergelangan atas tangan kanannya yang membuat ia harus mendapat empat jahitan luar dan tiga jahitan dalam. Tubuhnya tak mampu berdiri lagi, lemas tak berdaya dan matanya berkunang-kunang. Tapi untung saja kacamatanya tidak pecah, hanya sedikit kotor karena terjatuh.
Meski ada yang mengganjal di hati Tama, apa gerangan sampai-sampai Iqbal dipukuli orang dan babak belur seperti apa yang dilihatnya. “Telahkah Iqbal melakukan sesuatu yang tidak-tidak dan dipukuli ?, atau... ada yang merampoknya ?, dan mungkin saja dia punya musuh yang tak aku ketahui ?” hati Tama bertanya-tanya, beberapa kali ia mencoba mengatakannya pada Iqbal tetapi sulit terucap. Mungkinkah Rizal ?, karena beberapa hari yang lalu, ia dipaksa Rizal untuk merokok dan mengancam akan memberinya pelajaran jika tidak mau. Biarlah rasa penasaran itu menghantuinya, toh nanti akan lupa sendiri.
Malam harinya Iqbal memutuskan diri untuk menginap di rumah Tama. Kebetulan orang tua Tama sedang pergi ke luar kota ada urusan keluarga. Sesegera mungkin Iqbal menghubungi Ibunya, takut kalau saja ibunya telah khawatir, menunggu lama sendiri di rumah. Ia tidak ingin berkata bohong tapi apa boleh buat. Ia bicara kalau ia ingin menginap di rumah Tama karena ada banyak tugas sekolah yang harus diselesaikan. Tak terasa beban berat yang harus dipikulnya, ia mengejar impiannya untuk bersekolah setinggi mungkin dan jadi orang sukses di kemudian hari.Tetapi ada saja hambatan yang menghadang.
Setiap hari Iqbal belajar, ia tidak mengenal waktu. Sampai tengah malam menghampirinya pun ia masih saja mengotak-atik buku-buku dan laptop yang ada di kamarnya. Pantas saja kamarnya sering berantakan, berjajar buku-buku yang mengantri dan siap menunggu giliran untuk dibaca.
Pada suatu malamRahma tampak gelisah, beberapa kali ia melamun dan melukiskan kesedihan di wajahnya. Ada apa gerangan yang terjadi, ada suatu perasaan aneh yang menghantuinya. Ia membaringkan diri di atas kasur, mengamati langit-langit rumah dan kemudian melamun lagi. Telepon genggamyang berada di samping kirinya ia ambil dan mulai menggerakkan jarinya yang sudah kaku. Tidak ada hujan diluar rumah, ia juga tidak sedang sakit namun tubuhnya gemetaran, dingin dan ketakutan.
            “Iqbal !” “Iqbal !” gumam Rahma dalam sunyinya malam gelap.
Rahma bertanya kepada Tama, bagaimana kondisi pria yang dulu pernah singgah dihatinya itu, apakah dia baik-baik saja atau bagaimana ?. sudah dua minggu ini Iqbal hampir tidak masuk sekolah, dan tidak sekalipun ia memberitahukan aktivitasnya selama ini. Seleksi kurang dari satu bulan lagi, tapi Iqbal malah tidak jelas entah apa yang dilakukannya. Tama sudah menghubunginya berulang kali, masih tidak ada jalan keluar dari rasa ingin tahu mereka. Tidak sabar untuk terus menunggu kepastian dari Iqbal, mereka memutuskan untuk menemui Iqbal dirumahya. Namun, dua kali sudah mereka ke rumah Iqbal, hasilnya nihil. Rumahnya sepi, tetangganya juga tak tahu apa yang terjadi,
***
            “Kak, cepatlah pulang !, Ibu dirawat di rumah sakit.” KataIqbal melalui pesan singkat.
Terakhir kali ia tidur satu atap dirumah bertiga satu bulan lebih yang lalu. Orang yang dulu ditinggi-tinggikan menjadi tulang punggung keluarga kini hanya menjadi sampah, tak berguna. Iya !,Hendra pergi meninggalkan rumah dan memilih hidup dengan kekasihnya yang belum tentu jelas akhirnya. DuluHendra berusaha membantu mereka dalam berbagai hal, tapi nyatanya sekarang mereka tak bersama lagi. Alhasil berkat kerja keras serta do’a Ibu, Iqbal mampu mengenyam pendidikan dan berhasil mengantarkanHendra ke perguruan tinggi yang cukup terkenal dimana-mana.
            “Assalamu’alaikum... Ibu ? Iqbal ?, kakak pulang nih.” Seru Hendra seraya membuka pintu depan.
Seketika itu juga Iqbal terkejut dari lamunannya mendengar suara kakaknya,kak Hendra. Perasaan sedih, kesal, marah, dan pasrah menderanya begitu ganas. Ia segera bangkit dari bangku dan memantapkan langkahnya menghampiri Hendra, wajahnya berkeringat dan tubuhnya terasa menyala-nyala. Tangan kiri Iqbal yang baru saja sembuh dari patah tulang itu mencengkeram kuat kerah baju Hendra, ingin ia memukul keras wajah kakaknya itu sampai membiru dan berdarah. Namun segera ia urungkan niatnya, tak berdaya lagi dirinya kala itu. Entah apa yang ia pikirkan, sebelumnya ia tidak pernah merasa semarah itu. Hendra membisu, membiarkan dirinya hancur di tangan adik satu-satunya.
            “Kak, kenapa kakak pulang ? kukira kakak akan pergi meninggalkan kami dan lebih memilih wanita itu.” Kata Iqbal menahan amarahnya.
“Aku sudah memutuskan dia, kakak sadar kalau selama ini tidak ada gunanya berada di sampingnya sedangkan kamu lebih membutuhkan aku.”
“Heh (tersenyum), cukuplah hanya kepergian ayah yang meninggalkan kita begitu saja, aku tidak ingin jadi sepertinya.”
Sejak kecil Iqbal telah kehilangan kasih sayang seorang ayah, ayahnya pergi meninggalkan ibu, hendra dan iqbal begitu saja. Sudah sering ayah pergi hanya sekedar menghambur-hamburkan uang untuk berjudi, mabuk-mabukan, atau berkumpul bersama teman-temannya yang sama tabiatnya. Karena kepergian ayah pula, saat Iqbal SMP mereka memilih pindah pulang ke kampung halaman ibu di luar kota. Dan tak lagi di rumah ayah di kota besar.
Perlahan tangan Iqbal melepas genggamannya, ia membuang muka dan pergi ke kamar. Kak Hendra meminta maaf sudah membuat mereka berdua menderita. Biarpun tangan adik kandungnya sendiri akan menghantam kuat ke wajahnya. Iqbal segera bergegas, menyiapkan perlengkapan. Hendra merasa ada sesuatu yang kurang dirumah pagi itu, sepi terdengar suara lalu lalang kendaraan di depan rumah. Melihat Iqbal memakai baju yang agak asing dimata Hendra dan tak biasanya di pertengahan minggu ia tidak berangkat ke sekolah.
            “Iqbal, kamu mau kemana ? apa seragam sekolahmu ganti ?” tanya Hendra, memandang ke arah Iqbal yang sedang menyalakan motor.
            “Ibu dirawat di rumah sakit dan....membutuhkan uang yang cukup banyak,aku harus bekerja, meski...Ibusudah melarangku untuk itu.” Kata Iqbal.
Sejak kecilIqbalsering membantu Ibunya berdagang pakaian di pasar, dan setelah ayah pergi meninggalkan mereka begitu saja tanpa ada tanggung jawab yang jelas. Hendra membantu menopang tiang perekonomian mereka bertiga.
Hendra keheranan kemudian menghampiri Iqbal dan memegang pundaknya perlahan. Hendra meyuruh Iqbal untuk mengurungkan niatnya berangkat bekerja. Namun Iqbal tetap pergi mengendarai motornya dengan hati yang mantap. Menyusul kepergian Iqbal, Hendra mengendarai motornya menuju rumah sakit tempat ibu berada.
***
Tama dan Rahma bertemu lagi untuk membahas perihal kepergian Iqbal yang tanpa sebab. Mereka berdua sudah sering mendatangi rumah Iqbal namun tidak ada hasil, begitu pula teman-temannya yang lain juga tidak mengetahui akan hal itu. Kali ini mereka bertemu di sebuah restoran makanan cepat saji, Rahma memanggil salah satu pelayan untuk memesan hidangan. Sambil sesekali berbincang mencari solusi, keduanya menunggu pesanan.
            “Dug, dug, dug.” Suara sepatu pramusaji yang datang membawakan pesanan. Mereka pun menghentikan perbincangan dan menyambut mas pramusaji itu.
            “Loh ?, Iqbal ?” kata Tama dan Rahma serentak. Tidak disangka-sangka ternyata di meja lain terdapat Iqbal teman dekat mereka. Iqbal menoleh ke arah mereka, dalam hatinya, ia ketakutan dan was-was akan apa yang ia kerjakan. Rahma bergegas menghampirinya begitu pulaTama menyusul di belakang. Rahma menarik bajuIqbal dan mengajaknya ke tempat yang agak sepi di dalam restoran. Mata Rahma berkaca-kaca menahan air mata, tapi kemudian tetesan itu meluncur juga menuruni kedua pipinya. Ingin Iqbal mengusap air mata Rahma tetapi takut entah mengapa, hanya bisa dengan kata-kata kecil agar ia tidak bersedih lagi.
            “Rahma, aku minta maaf. dulu...” kata Iqbal lirih.
            “Kamu tidak perlu minta maaf, aku sudah bisa mengerti sekarang.” “kami menghawatirkanmu, apa kamu bekerja disini ?, kata Tama kamu hampir tidak masuk sekolah tiga minggu ini.” Seru Rahma agak tergesa-gesa, menatap mata Iqbal dan sesekali menunduk tidak kuasa menahan tangis. Sudah lama mereka tidak bertemu. Terakhir kali saat keduanya bersama di acara gladi bersih perpisahan kelulusan SMP mereka. Iqbal meminta maaf karena telah membuat mereka khawatir. Semua itu ia lakukan untuk kesembuhan Ibunya. Setelah 66 hari yang panjang, Iqbal memutuskan Rahma. keduanya telah bertekad untuk serius belajar dan meraih hal yang mereka impikan. Dan kali ini keduanya telah tiba di depan pintu gerbang kesuksesan pendidikan, menunggu untuk membukanya dan memasuki dunia karir.
Malam harinya Hendra dan Iqbal menemani Ibu yang sedang dirawat di rumah sakit. Meski Iqbal tidak masuk sekolah, ia tetap mengerjakan semua tugasnya. Ada kalanya ia harus bertanya pada Tama, beberapa hal yang tidak ia mengerti selama ia bekerja di restoran.
            “Besok tidak perlu lagi kamu pergi bekerja, seleksi akan diadakan lusa dan kamu harus mempersiapkan semua keperluanmu untuk menghadapinya !” kata Hendra sedikit memaksa. ia menuruti apa yang diperintahkan kakaknya itu. Biaya operasi telah lunas dibayar.
***
Langkah kaki Iqbal menggema menyusuri lobi rumah sakit yang luas dengan dinding putih bertepi hijau terang, satu per satu air matanya menetes, badannya gemetar dan berkeringat. Ia sedikit berlari menuju ruang ibu dirawat. Disana bersandarlah Rahma dan kak Hendra di luar ruangan, terduduk di kursi tunggu. Dokter membuka pintu dari dalam dan keluar menemui mereka. Menyampaikan beberapa kabar yang harus mereka ketahui tentang ibu.
            “Ehm, alhamdulillah....pelaksanaan operasi cangkok ginjal kemarin lusa berhasil, dan kalian sudah bisa berbincang dengannya sekarang. Sebelum saya kembali ke ruangan, apakah ada yang bisa saya bantu ?” kata dokter yang telah selesai memeriksa.
Setelah dokter pergi meninggalkan tempat, ketiganya memasuki ruangan. Hening, pelan  langkah kaki mengiringi rasa haru dan kegembiraan yang merasuk di hati. Ibu memandang Iqbal dan Hendra, terukir senyum  di antara mereka. Sementara Rahma terdiam seribu bahasa, berdiri di dekat pintu di belakang Iqbal.
            “Ibu, aku dan Tama lolos beasiswa ke Jepang di fakultas teknik global of japan, dan tahun depan aku akan mulai kuliah.” Kata Iqbal, dengan begitu semangatnya ia menyampaikan kabar gembira itu.
            Beberapa hari yang lalu Iqbal dan Tama mengikuti seleksi penerima beasiswa di kantor GOJ (Global of Japan), juga tes-tes yang dilalui mereka sedemikian beratnya. Dan akhirnya lolos dengan nilai yang tinggi.
Iqbal tak pernah berani mengungkapkan perasaannya pada siapapun kecuali sahabatnya sendiri. Memegang tangan ibunya dan tersenyum. Menoleh ke arah Rahma dan berkata bahwa gadis itu adalah inspirasinya dan memohon agar ibu merestui hubungan mereka.Rahma tidak mendengar sepatah katapun dari perbincangan mereka. Hanya senyum dan kebahagiaan yang terpancar dalam raut wajah. Ibu melihat dan sesekali mengamati Rahma. Sedangkan kak Hendra sedang mengurus administrasi kepulangan Ibu dari rumah sakit.
“Rahma, aku ingin kita tidak hanya bersama sesingkat seperti dulu kita..., ya ! aku mau kita tunangan !” kata Iqbal di dalam ruangan ibu dirawat.
Sontak kata-kata itu membuat Rahma kaget, ia sedikit tertawa. “aku tahu kamu serius, kita lakukan itu kalau sudah lulus saja. Tidak ada salahnya menunggu kan ?”
“Ya, sudah ku pikirkan ini matang-matang, setelah lulus nanti aku akan ke Jepang dan mungkin aku hanya akan ke Indonesia maksimal setahun sekali.” Mereka dikejutkan dengan kedatangan Hendra yang membawa bukti lunas.
Kondisi Ibu sudah cukup membaik, Iqbal dan Hendra membawa Ibu pulang dengan mengendarai mobil Tama yang sudah tiba di depan rumah sakit beberapa menit yang lalu.
Enam bulan kemudian...
Iqbal memakai mantel hangatnya dan melangkahkan kaki menuruni tangga, bersama Tama ia merajut pendidikannya di negeri sakura yang begitu ia inginkan selama ia bersekolah dulu.
---***---
Read More....

Copyright © 2012 MyBlog Rahayu Nur | Another Theme | Designed by Johanes DJ